Langsung ke konten utama

Gundam Wing Frozen Teardrop PDF (Fan Translation) Indonesia

Bagi para penggemar seri Mobile Suit Gundam Wing, cerita sebenarnya tidak berhenti di film Gundam Wing: Endless Waltz. Ada sebuah lanjutan cerita resmi dalam bentuk light novel berjudul Mobile Suit Gundam Wing: Frozen Teardrop.

Light novel ini ditulis oleh Katsuyuki Sumizawa, penulis yang juga terlibat dalam penulisan cerita Gundam Wing versi anime.

Karena novel ini belum memiliki terjemahan resmi dalam banyak bahasa, para penggemar membuat fan translation agar cerita ini bisa dinikmati oleh komunitas Gundam di seluruh dunia.

Sinopsis Gundam Wing Frozen Teardrop

Cerita berlangsung beberapa dekade setelah perang besar yang diceritakan dalam Gundam Wing dan Endless Waltz. Dunia saat ini memasuki era baru yang disebut Mars Century (MC), sebuah masa damai dimana senjata perang dan mobile suit telah dimusnahkan demi mencegah konflik kembali terjadi.

Namun kedamaian tersebut ternyata hanya bersifat sementara.

Ketegangan mulai muncul antara Bumi dan koloni di Mars. Konflik baru ini membawa kembali bayangan masa lalu yang melibatkan para pilot Gundam legendaris seperti Heero Yuy, Duo Maxwell, Trowa Barton, Quatre Raberba Winner, dan Chang Wufei.

Sebuah proyek misterius bernama Frozen Teardrop mulai terungkap. Proyek ini menyimpan rahasia besar mengenai identitas para pilot, teknologi kloning serta kemungkinan kebangkitan kembali Gundam yang seharusnya telah dimusnahkan.

Generasi baru harus menghadapi warisan konflik dari generasi sebelumnya, sementara rahasia masa lalu perlahan terungkap dan akan menjadi ancaman bagi kestabilan dunia.

Download Gundam Wing Frozen Teardrop PDF (Fan Translation)

Bagi yang ingin membaca light novel ini, kamu bisa mengunduh versi fan translation PDF melalui link di bawah ini.

Volume 1 : Download di sini

Volume 2: On progress

Volume 3: On progress

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen: Sisa Kenangan

Namaku Izumi. Usiaku dua puluh empat tahun. Aku bekerja di sebuah perusahaan otomotif di Nagoya, kota yang sejak kecil menjadi panggung hidupku. Hari-hari di sini bergerak seperti jam tua yang jarumnya berderak pelan, mengulang bunyi yang sama, tak pernah berubah. Suara mesin pabrik yang kasar, langkah-langkah tergesa di peron stasiun, bau besi dan oli yang melekat di udara. Bahkan langit senja pun seperti terus mengulang warna yang sama, jingga kusam yang menekan dadaku dengan perasaan tak bernama. Aku kira aku sudah terbiasa dengan semua itu. Sampai suatu sore, layar ponselku bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp, dan di sana, terpampang sebuah nama yang terasa asing sekaligus dekat. Rika. Nama itu seperti pintu tua yang selama ini kututup rapat. Tapi begitu kubuka sedikit saja, seluruh debu kenangan berhamburan, memenuhi ruangan kosong di dadaku. Aku teringat kembali masa SMA. Aku dan Rika pernah bersama selama dua bulan, waktu yang cukup singkat yang terasa seperti mimpi yang...